Psikolog Harvard Ungkap Enam Kalimat Ciri Kecerdasan Emosional Rendah

Share

Kecerdasan emosional (EQ) memiliki peran krusial dalam menentukan kesuksesan hubungan sosial serta kepemimpinan seseorang. Faktor ini dinilai lebih memengaruhi kesejahteraan hidup jangka panjang dibandingkan dengan kecerdasan intelektual (IQ).

Seorang psikolog bersertifikat lulusan Harvard, Dr Cortney S. Warren, menjelaskan bahwa EQ merupakan kemampuan individu untuk memahami serta mengevaluasi perasaan secara akurat, baik pada diri sendiri maupun orang lain. Individu yang memiliki kecerdasan emosional tinggi mampu memahami lingkungan sekitar dan perasaan mereka dengan baik.

"Sebagai psikolog lulusan Harvard, saya telah melihat sendiri bagaimana hal ini (EQ) merupakan kunci kesuksesan profesional dan pribadi jangka panjang," ucapnya, dikutip dari CNBC melalui Detikcom.

Sebaliknya, Warren mengidentifikasi sejumlah karakteristik yang menandakan seseorang memiliki EQ rendah. Ciri-ciri tersebut sering kali tecermin dari kalimat-kalimat yang mereka ucapkan dalam kondisi tertentu.

Berikut adalah beberapa pernyataan yang biasanya keluar dari individu dengan tingkat kecerdasan emosional yang rendah menurut penjelasan Warren.

1. Menyalahkan Orang Lain atas Perasaannya

Individu dengan EQ rendah memiliki kecenderungan untuk melemparkan kesalahan kepada pihak luar ketika menghadapi situasi emosional. Mereka merasa orang lain harus bertanggung jawab atas apa yang mereka rasakan.

"Ini salahmu, aku jadi merasa seperti ini."

Warren menegaskan bahwa emosi setiap individu sebenarnya bukan tanggung jawab orang lain untuk memperbaikinya.

"Emosi adalah kesempatan untuk memahami diri sendiri dan menetapkan batasan," katanya.

Sebagai solusi, Warren menyarankan pengungkapan yang lebih bijak melalui kalimat alternatif.

"Saat ini saya sedang sangat emosional. Menurut saya tentang situasi ini adalah…"

2. Mudah Menghakimi Orang Lain

Orang yang memiliki EQ rendah cenderung cepat menilai orang lain bersalah. Mereka biasanya langsung mencari cara untuk menyalahkan pihak lain saat menerima masukan atau umpan balik.

"Kamu salah."

Untuk merespons situasi tersebut secara lebih sehat, kalimat alternatif yang disarankan adalah sebagai berikut.

"Saya ingin mendengar sudut pandang kamu tentang … ."

3. Sulit Memahami Perspektif Orang Lain

Ketidakmampuan memahami emosi orang lain menjadi ciri berikutnya. Pemilik EQ rendah kerap kesulitan menelaah dan melihat suatu kondisi dari sudut pandang individu lain.

"Perasaanmu tidak masuk akal."

Sebaliknya, orang dengan kecerdasan emosional tinggi akan tetap mengakui perasaan sesamanya, meskipun tidak memahami sepenuhnya asal-muasal perasaan tersebut muncul.

"Saya tidak sepenuhnya mengerti mengapa kamu merasa seperti ini. Bisakah kamu menceritakannya?"

4. Menyimpan Dendam dan Sulit Memaafkan

Warren menyebutkan bahwa orang dengan EQ rendah memiliki hambatan dalam memberikan maaf karena kurang mampu menempatkan diri secara emosional pada posisi orang lain.

"Aku tidak bisa memaafkanmu."

Kalimat alternatif yang dapat digunakan untuk memperbaiki hubungan dalam situasi ini telah dirumuskan oleh Warren.

"Saat ini aku kesulitan memaafkanmu. Tapi aku sedang berusaha keras untuk melepaskan rasa dendam dan amarah ini, karena aku ingin kita bisa memperbaiki hubungan ini dan melangkah lebih baik."

5. Tidak Simpatik Terhadap Reaksi Orang Lain

Pemilik kecerdasan emosional yang rendah juga cenderung menunjukkan sensitivitas negatif terhadap reaksi emosional orang lain. Mereka kurang mampu mendengarkan pengalaman sesama yang mungkin sedang bereaksi secara berlebihan.

"Berhentilah bertingkah berlebihan!"

6. Kaku dan Menolak Perubahan Diri

Individu dengan EQ rendah umumnya bersikap kaku dan menentang segala upaya untuk berubah atau berkembang. Mereka sering merasa sangat percaya diri bahwa kepribadiannya tidak akan berubah.

"Aku tidak akan berubah. Inilah diriku."

Padahal, kemampuan beradaptasi merupakan aspek yang sangat penting dalam proses pengembangan diri setiap manusia.

"Keyakinan yang kuat itu penting, tetapi keterbukaan terhadap kemungkinan baru juga sama pentingnya," tuturnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author