Ucapan Sederhana Orang Tua Bisa Membekas di Hati Anak hingga Puluhan Tahun
Setiap patah kata yang keluar dari mulut orang tua memegang arti penting bagi perkembangan anak. Komentar yang terdengar biasa saja bahkan mampu memengaruhi cara mereka menilai diri sendiri hingga usia dewasa. Memori masa kecil yang menetap bukan hanya tentang pemberian hadiah atau perjalanan liburan.
Ucapan serta sikap orang tua saat berbicara justru kerap menjadi kenangan yang paling mendalam bagi anak. Pengalaman ini dirasakan oleh seorang ibu bernama Nicole Schildt, seperti dikutip dari HaiBunda yang melansir Business Insider. Sebuah kalimat dari masa lalu tetap melekat kuat di ingatannya meski sudah berlalu lebih dari 20 tahun.
Kisah tersebut memberikan pelajaran berharga mengenai besarnya dampak dari perkataan orang tua. Saat menginjak usia 16 tahun, Nicole Schildt mengaku sempat mengalami krisis rasa percaya diri terhadap penampilan fisiknya.
Sama seperti remaja pada umumnya, ia sering berfokus pada kekurangan tubuh dan membandingkan diri dengan orang lain. Perasaan tidak cukup baik tersebut membuat rasa percaya diri menjadi hal yang sulit ia temukan. Situasi tersebut sempat berubah ketika Nicole Schildt berhasil menemukan pakaian untuk Hari Paskah setelah mencari selama berjam-jam di mal. Atasan tanpa lengan berwarna lavender dan rok kotak-kotak bernuansa biru-ungu membuatnya merasa cantik serta nyaman.
Dengan penuh semangat, ia langsung pulang untuk memperlihatkan busana baru itu kepada ibunya. Nicole Schildt berharap sang ibu dapat melihat kebahagiaan serta rasa percaya diri yang sedang ia rasakan. Namun, respons yang ia terima justru di luar ekspektasi. Alih-alih mendapatkan pujian, sang ibu justru memberikan komentar yang seketika membuyarkan kegembiraannya.
"Bukankah pakaian itu agak ketat?" Kalimat itu menjadi satu-satunya hal yang didengar oleh Nicole Schildt. Tidak ada validasi berupa pujian atau pengakuan terhadap rasa bahagia yang sedang ia tunjukkan saat itu.
Dampak Kata-Kata Terhadap Suara Hati Anak
Setelah bertahun-tahun berlalu, Nicole Schildt menyadari bahwa perkembangan masa kecil turut dibentuk oleh interaksi sehari-hari. Berbagai obrolan kasual ikut andil dalam membangun cara anak memandang identitas mereka sendiri.
Orang tua kerap tidak menyadari perkataan mana yang akan terus diingat oleh anak. Padahal, komentar spontan tersebut berpotensi menjadi suara hati yang terus terngiang hingga puluhan tahun kemudian. Nicole Schildt memahami bahwa ibunya tidak berniat menyakiti hatinya.
Setelah kini menjadi orang tua dari enam anak, ia mengerti bahwa ucapan spontan sangat mudah terlontar di tengah kepenatan aktivitas harian. Kesibukan mengurus rumah tangga, menjawab pertanyaan anak, dan menyelesaikan berbagai urusan sering membuat orang tua tidak sempat menyaring kata-kata mereka. Padahal, bagi anak-anak, setiap kalimat tersebut memiliki makna yang mendalam.
"Anak-anak mendengarkan ketika kita berpikir mereka tidak mendengarkan. Mereka memberi makna pada kata-kata kita. Mereka menentukan siapa diri mereka, sebagian, berdasarkan apa yang mereka dengar dari kita," kata Nicole Schildt.
Menjaga Sikap Sebelum Merespons Anak
Pengalaman masa lalu tersebut membuat Nicole Schildt kini lebih berhati-hati dalam berkomunikasi dengan anak-anaknya. Ia memilih untuk berhenti sejenak sebelum melontarkan komentar atau tanggapan. "Saya tahu sendiri betapa mudahnya sebuah komentar dapat terus terngiang di benak kita bahkan setelah komentar itu diucapkan," ungkap Nicole Schildt.
Ketika anak-anaknya menunjukkan hasil karya, potongan rambut baru, atau pilihan pakaian sendiri, ia memilih untuk mengapresiasi rasa bangga mereka terlebih dahulu. Kritik atau masukan yang sifatnya mengkhawatirkan dapat disampaikan pada momentum lain yang lebih tepat. Setiap ucapan dari orang tua membawa pengaruh yang sangat masif. Perkataan yang dilontarkan hari ini memiliki peluang besar untuk menjadi pemikiran yang terus menemani langkah anak hingga mereka tumbuh dewasa.