IHSG Juli 2026 Melesat di Zona Hijau Sentuh Posisi 5.792 pada Sesi I
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Juli tahun ini dengan bergerak meyakinkan di zona hijau. Laju indeks saham domestik tersebut selaras dengan tren historis selama satu dekade terakhir. Seperti dilansir dari Bloomberg Technoz, rata-rata IHSG tercatat mengalami penguatan sebesar 2,88% sepanjang perdagangan saham pada bulan Juli dalam kurun waktu 10 tahun ke belakang.
Pada perdagangan Sesi I, Kamis (2/7/2026), IHSG melaju nyaman di zona hijau dengan kenaikan sebesar 1,71% hingga menyentuh posisi 5.792. Pergerakan indeks terpantau solid di jalur positif sepanjang sesi.
Merujuk pada data seasonality Bloomberg, IHSG sempat melonjak hingga 8,04% pada Juli tahun lalu. Kenaikan tinggi tersebut terjadi di tengah pemulihan pasar pasca-pengumuman tarif resiprokal oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Sinyal positif kala itu didorong oleh kesepakatan tarif dagang antara AS dengan beberapa mitra di kawasan Asia, serta indikasi kesepakatan lanjutan bersama Uni Eropa. Perkembangan ini memberikan kepastian bagi para investor. Dampak kebijakan tersebut membuat Indonesia memperoleh pengurangan tarif dari 32% menjadi 19%. Ditambah dengan penurunan BI Rate menjadi 5,25% saat itu, pergerakan IHSG pun menjadi sangat kencang.
Terdapat sejumlah rilis data ekonomi penting yang berpotensi memengaruhi dinamika pergerakan IHSG sepanjang Juli tahun ini. Salah satunya adalah rilis data inflasi domestik. Data inflasi Indonesia untuk periode Juni 2026 tercatat berada di level 0,44% secara bulanan (month-to-month/mtm). Angka ini menunjukkan peningkatan jika dibandingkan dengan inflasi Mei 2026 yang sebesar 0,28% mtm.
Sementara itu, tingkat inflasi secara tahunan (year-on-year/yoy) berada di angka 3,34%. Realisasi ini juga mengalami penguatan dari posisi inflasi pada Mei 2026 yang tercatat sebesar 3,08% yoy. Selain faktor inflasi, pelaku pasar juga menyoroti rilis data aktivitas manufaktur nasional.
S&P Global melaporkan bahwa Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia Juni 2026 melorot ke level 46,9. Posisi tersebut turun dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level 50. Catatan performa manufaktur kali ini sekaligus menjadi yang terendah dalam kurun waktu satu tahun terakhir.
Penurunan terdalam sejak April tahun lalu terjadi pada sektor permintaan baru (new orders). Berkurangnya beban kerja kemudian memicu penurunan pembelian bahan baku serta penyerapan tenaga kerja baru.
Berdasarkan keterangan dari S&P Global, pelaku usaha mengungkapkan bahwa kondisi ini berkaitan erat dengan penurunan daya beli masyarakat. Pelemahan daya beli tersebut dipicu oleh lonjakan harga-harga barang. Sektor manufaktur menjadi indikator krusial bagi para pelaku pasar modal.
Hal ini karena manufaktur merupakan kontributor utama dalam pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) dari sisi lapangan usaha. Ketika aktivitas sektor manufaktur mengalami tekanan, laju pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan berisiko tertahan. Oleh karena itu, perkembangannya terus dipantau secara ketat oleh investor.
Perbandingan Performa Indeks Saham Asia
Kinerja positif IHSG di awal Juli ini juga beriringan dengan potensi penguatan pada sejumlah bursa saham di kawasan Asia. Tren historis menunjukkan pergerakan positif di beberapa regional.
Bila dibandingkan dengan indeks regional dalam 10 tahun terakhir, Straits Times Index Singapura mencatatkan rata-rata kenaikan 2,17%, sedangkan Bursa Malaysia KLCI Index menguat sebesar 1,76%. Pada periode yang sama, Korea Stock Exchange KOSPI Index terpantau menguat 1,28%. Sementara itu, indeks TOPIX Jepang juga ikut terangkat dengan rata-rata kenaikan sebesar 1,04%.
Untuk saat ini, laju indeks utama di Singapura dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi yang bergerak positif. PDB Singapura sukses mencetak pertumbuhan sebesar 6% secara tahunan (yoy) pada kuartal I-2026. Realisasi pertumbuhan ekonomi Singapura tersebut berhasil tumbuh di atas ekspektasi pasar. Ketahanan ekonomi yang kuat sejauh ini memicu tingginya permintaan terhadap berbagai aset di negara tersebut.
Kondisi ekonomi Singapura yang solid ini pada akhirnya ikut memberikan dampak positif bagi pasar keuangan mereka. Perkembangan tersebut turut memperkuat nilai tukar dolar Singapura dan mendorong penguatan indeks Straits Times.