Gelombang Panas Eropa Picu Kematian Massal dan Gangguan Infrastruktur

Share

Gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara di benua Eropa sejak 21 Juni 2026 memicu lonjakan kasus penyakit, gangguan infrastruktur transportasi, hingga menyebabkan sedikitnya 1.300 kasus kematian berlebih.

Lonjakan fatalitas tersebut berdampak langsung pada manajemen kesehatan lingkungan setempat akibat kenaikan suhu udara rata-rata yang mencapai 29,8 derajat Celsius hingga menyentuh angka 44 derajat Celsius di beberapa wilayah, seperti dilansir dari Detik Health.

Organisasi Kesehatan Dunia mencatat bahwa laju peningkatan suhu di benua tersebut terjadi dua kali lebih cepat daripada rata-rata global akibat perubahan iklim yang terus memburuk.

"Didorong oleh perubahan iklim dan pemanasan global, fenomena gelombang panas yang sebelumnya dianggap hanya terjadi sekali dalam satu generasi kini hampir terjadi setiap tahun," kata Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Minggu (28/6/2026).

Kondisi cuaca ekstrem ini sempat mereda di Prancis setelah badai akhirnya menerjang beberapa daerah pasca-laporan seribu kematian berlebih, sementara wilayah lain seperti Jerman, Republik Ceko, dan Polandia mencatatkan suhu udara puncak hingga 40 derajat Celsius.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memberikan konfirmasi mengenai potensi rambatan fenomena atmosfer ini terhadap wilayah tropis.

"Secara geografis wilayah Indonesia berada di sekitar wilayah ekuatorial, sehingga memiliki karakteristik dinamika atmosfer yang berbeda dengan wilayah lintang menengah-tinggi," ucap Ida Pramuwardani, Plh. Direktur Meteorologi Publik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) saat dihubungi pada Rabu (1/7/2026).

Perbedaan posisi lintang bumi tersebut menempatkan Indonesia pada wilayah dengan variabilitas perubahan cuaca yang berlangsung cepat, sehingga meminimalisasi akumulasi panas ekstrem statis dalam waktu lama.

"Maka dapat dikatakan bahwa di wilayah Indonesia tidak terjadi fenomena yang dikenal dengan Gelombang Panas atau Heatwave," tutur Ida Pramuwardani lagi.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author