Kenali 9 Kebiasaan Toxic Orang Tua yang Mengganggu Tumbuh Kembang Anak

Share

Istilah toxic sering digunakan untuk menggambarkan hubungan yang tidak sehat atau perilaku seseorang yang menyakiti orang lain. Tindakan negatif yang berulang ini dapat memicu stres dan kecemasan.

Sifat toxic bisa bersumber dari mana saja, termasuk dari orang tua sendiri. Dilansir dari HaiBunda, kebiasaan buruk dalam pengasuhan terkadang tidak disadari tetapi berdampak buruk bagi anak.

Anak-anak cenderung meniru kebiasaan orang tua mereka. Pola asuh yang keliru dapat meninggalkan pengalaman traumatis yang terus terbawa hingga mereka tumbuh dewasa.

Terdapat sejumlah kebiasaan tidak sehat yang tanpa disadari dapat mengganggu proses tumbuh kembang anak secara optimal.

1. Kegagalan Mengelola Emosi Diri

Mengalami kelelahan saat mendidik anak adalah hal yang wajar bagi orang tua. Namun, ledakan emosi yang tidak terkendali dapat memberikan dampak emosional yang besar pada anak.

Kondisi ini membuat anak terus-menerus merasa khawatir dan harus berhati-hati di sekitar orang tua mereka sendiri.

“Anak-anak membutuhkan konsistensi emosional agar merasa aman dan mengembangkan keterampilan mengatasi masalah yang sehat,” jelas Cynthia Edwards-Hawver, PsyD, seorang psikolog berlisensi, dikutip dari Parents.

2. Minimnya Batasan yang Jelas

Membangun batasan yang sehat dengan anak merupakan hal yang penting dalam keluarga. Contoh pengasuhan tanpa batasan meliputi menceritakan masalah pribadi secara berlebihan hingga mengganggu privasi anak.

“Masalah batasan dalam pengasuhan dapat menyebabkan anak-anak menjadi sangat bergantung dan kurang mampu menyelesaikan masalah sendiri,” ungkap Dr. De Gannes.

Ketiadaan batasan ini juga berisiko membuat anak menarik diri karena merasa ruang geraknya terlalu didominasi oleh orang tua.

3. Memaksakan Kehendak pada Jalan Hidup Anak

Keinginan membantu anak meraih kesuksesan bisa menjadi toxic jika dilakukan secara berlebihan. Orang tua terkadang lupa bahwa anak memiliki tujuan hidupnya sendiri.

“Sifat toxic terbesar yang saya lihat dilakukan orang tua yang penuh kasih sayang secara tidak sengaja adalah tidak memahami bahwa anak mereka memiliki jalan dan tujuan hidup sendiri,” kata Dawn Friedman, MSEd, LPCC, seorang konselor klinis profesional berlisensi, yang mengkhususkan diri dalam kecemasan anak.

Anak perlu diberikan ruang untuk mengambil keputusan dan belajar dari kesalahan agar tumbuh menjadi pribadi yang mandiri serta percaya diri.

4. Sikap Terlalu Mengontrol

Mengendalikan setiap lini kehidupan anak merupakan ciri pengasuhan yang tidak sehat. Bentuk kontrol ini seperti mengawasi ketat pertemanan hingga membatasi konsumsi media secara ekstrem.

Pola asuh helikopter dan pengawasan yang terlalu ketat ini justru berpotensi memicu perilaku pemberontak pada anak.

5. Memanfaatkan Rasa Bersalah untuk Manipulasi

Membuat anak merasa bersalah sering dijadikan alat untuk memanipulasi pilihan mereka. Tindakan ini menghambat anak dalam mempelajari keterampilan hidup yang berharga.

“Membuat anak merasa bersalah untuk mencegah mereka membuat keputusan yang tidak setujui menyebabkan anak-anak merasa tidak mampu membuat keputusan sendiri atau lebih suka membuat keputusan secara diam-diam, sehingga bantuan dan intervensi tidak mungkin diterima ketika paling dibutuhkan,” jelas Dr. De Gannes.

6. Praktik Gaslighting

Gaslighting terjadi saat orang tua mengabaikan, memutarbalikkan, atau menyangkal kenyataan yang dialami anak. Ucapan bernada meremehkan membuat anak meragukan persepsi mereka sendiri.

7. Kritik Terhadap Tubuh dan Pola Makan

Mengomentari berat badan atau bentuk tubuh anak secara negatif dapat memberikan tekanan mental yang berat. Pola pikir yang positif seharusnya dibangun dengan mengajarkan esensi hidup sehat.

8. Memaksa Anak Berpihak dalam Konflik

Kebiasaan ini kerap muncul dalam keluarga yang menghadapi perceraian atau konflik internal yang tinggi. Melibatkan anak dalam perselisihan orang tua memicu kecemasan yang tidak perlu.

9. Memberi Kesan Bahwa Anak Menjadi Beban

Mengeluarkan ucapan yang mengisyaratkan bahwa kehadiran anak mengganggu orang lain dapat merusak kepribadian mereka. Anak akan menginternalisasi keyakinan keliru bahwa diri mereka tidak diinginkan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author