Iran Tegaskan Kendali Maritim di Selat Hormuz Jelang Negosiasi
Pemerintah Iran menegaskan komitmennya untuk mempertahankan kendali penuh atas lalu lintas maritim di Selat Hormuz menjelang negosiasi baru dengan Amerika Serikat pada Selasa, 30 Juni 2026, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz. Otoritas Teheran berencana menetapkan rute transit sementara serta mengajak Oman bekerja sama mengawasi kapal-kapal yang melewati jalur air vital tersebut demi mengakhiri perang secara permanen. Wakil Menteri Luar Negeri Kazem Gharibabadi menyampaikan bahwa Iran bersedia melanjutkan rencana pengawasan lalu lintas secara mandiri apabila Oman enggan berpartisipasi.
"Kami telah memperingatkan Oman bahwa negara lain tidak berhak untuk ikut campur dalam masalah ini," kata Gharibabadi, Wakil Menteri Luar Negeri Iran.
Gharibabadi menambahkan bahwa delegasi negaranya akan hadir di Doha hanya untuk menindaklanjuti implementasi perjanjian sementara yang difasilitasi oleh mediator Qatar. "orang Amerika akan melakukan perjalanan ke Doha, tetapi kami tidak berencana untuk bertemu dengan mereka," kata Gharibabadi, Wakil Menteri Luar Negeri Iran.
Di sisi lain, AS menentang keras segala bentuk penarikan biaya tol di selat tersebut dan berfokus pada upaya mencegah kepemilikan senjata nuklir oleh Iran. "Pertemuan di Doha mungkin penting, mungkin juga tidak," kata Trump, Presiden Amerika Serikat.
"Kita akan mengetahuinya, tetapi kita menang secara militer. Hampir menang secara militer, saya akan katakan, dan itu sangat sederhana. Ini adalah denuklirisasi Iran.
Kita tidak ingin mereka memiliki senjata nuklir, dan mereka tidak akan memiliki senjata nuklir," kata Trump, Presiden Amerika Serikat. Sikap keras Iran ini memicu kekhawatiran global terkait lonjakan biaya energi, meskipun Sultan Oman Haitham bin Tariq dan Presiden Prancis Emmanuel Macron telah menegaskan komitmen bersama terhadap kebebasan navigasi tanpa syarat.