Ketahui Perbedaan Ragi Aktif dan Ragi Instan untuk Membuat Roti

Share

Ragi menjadi salah satu komponen utama yang menentukan keberhasilan dalam pembuatan roti. Mikroorganisme dari kelompok fungi dan genus Saccharomyces ini berfungsi mengubah gula serta pati menjadi gas karbondioksida (CO2) selama proses fermentasi. Gas yang terperangkap di dalam adonan tersebut yang kemudian membuat roti dapat mengembang.

Selain memproduksi gas, ragi memiliki enzim yang mampu memecah kandungan gluten sehingga tekstur roti menjadi lebih empuk dan unik. Dikutip dari Detik Food, terdapat dua jenis ragi yang populer digunakan yaitu ragi aktif dan ragi instan. Walaupun memiliki fungsi yang serupa, kedua bahan pengembang ini memiliki karakteristik dan cara kerja yang berbeda.

Ragi aktif merupakan jenis ragi kering berbentuk butiran halus yang terbuat dari sel-sel yang dikeringkan. Komoditas ini biasanya dipasarkan dalam bentuk kemasan botol atau sachet di toko bahan kue.

Organisme di dalam ragi aktif berada dalam kondisi dorman atau tidur. Oleh karena itu, bahan ini harus dicampur terlebih dahulu dengan air hangat dan gula selama 5 hingga 10 menit sebelum dimasukkan ke dalam adonan roti. Kualitas ragi yang sudah lama disimpan dapat diuji melalui proses pengaktifan ini. Ragi aktif yang telah melewati masa terbaiknya atau kedaluwarsa tidak akan memicu kemunculan gelembung berbusa ringan ketika dilarutkan ke air.

Ditinjau dari masa simpannya, ragi aktif memiliki ketahanan yang cenderung lebih singkat daripada ragi instan. Produk ini dapat bertahan sampai 2 tahun dari tanggal produksi dengan catatan kemasan belum dibuka dan diletakkan di tempat sejuk.

Karakteristik dan Kepraktisan Ragi Instan

Ragi instan sekilas memiliki kemiripan karakteristik dengan ragi aktif kering sehingga masyarakat sering menganggap keduanya sama. Namun, ragi instan mempunyai tekstur butiran yang jauh lebih halus. Keunggulan utama ragi instan terletak pada kepraktisannya karena dapat langsung dicampur bersama bahan-bahan roti lainnya.

Proses fermentasi menggunakan ragi instan juga berlangsung lebih cepat dan menghasilkan roti yang lebih ringan serta berongga. Walaupun menawarkan kemudahan, penggunaan ragi instan memerlukan perhatian mendalam terhadap faktor lingkungan. Tingkat suhu dan kelembapan yang terlalu kering atau basah dapat menghambat proses fermentasi adonan.

Masa pakai ragi instan sangat dipengaruhi oleh kondisi penyimpanannya. Produk yang belum dibuka bisa bertahan antara 1 hingga 2 tahun, sedangkan ragi yang sudah dibuka harus dipindahkan ke wadah kedap udara dan disimpan di kulkas agar tetap aktif selama 3 sampai 6 months.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: kuliner ragi roti tips baking
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author