Gelombang Panas Ekstrem di Eropa Berpotensi Picu Ribuan Kematian
Fenomena gelombang panas ekstrem yang melanda wilayah Eropa pada minggu ini tercatat sebagai yang terpanas sekaligus paling lembap sepanjang sejarah. Kondisi cuaca buruk tersebut diperkirakan berpotensi memicu ribuan kasus kematian menduduki wilayah terdampak. Dikutip dari Detik iNET, jaringan ilmuwan World Weather Attribution mengungkapkan bahwa fenomena pemanasan global menjadi faktor utama di balik peristiwa ini.
Di sisi lain, potensi super El Nino yang sedang terbentuk di Samudra Pasifik dipastikan tidak memengaruhi lonjakan suhu tersebut. Melalui studi khusus, para peneliti mengamati tiga hari terpanas yang terjadi antara tanggal 22 hingga 29 Juni di sejumlah kawasan Eropa barat dan tengah. Suhu ekstrem ini dipicu oleh pola cuaca berupa kubah panas bertekanan rendah yang mengurung udara panas dari wilayah selatan.
Sekitar 50 tahun lalu, gelombang panas pada bulan Juni biasanya memiliki suhu 3,5 derajat C lebih sejuk. Lonjakan suhu yang terjadi baru-baru ini dinilai sangat langka dengan peluang kemunculan kurang dari sekali dalam 10.000 tahun.
Catatan meteorologi menunjukkan suhu siang hari di salah satu kota di Prancis menembus lebih dari 44 derajat C. Sementara itu, suhu malam hari di beberapa wilayah Spanyol bertahan pada angka di atas 30°C. "Peristiwa ini tidak akan mungkin terjadi pada bulan Juni tanpa adanya perubahan iklim. Suhu malam hari selama tiga hari tersebut tidak akan mungkin terjadi kapan pun sepanjang tahun tanpa adanya perubahan iklim." kata Theodore Keeping dari Imperial College London.
Kelembapan udara di banyak kota di Inggris juga mencatatkan rekor baru setelah menembus angka di atas 50%. Suhu titik embun berada pada kisaran 20-an rendah, berbanding terbalik dengan angka satu digit saat gelombang panas memecahkan rekor pada Juli 2022. Tingginya kadar kelembapan memperbesar risiko kesehatan karena memperlambat penguapan keringat yang berfungsi mendinginkan tubuh manusia. Kelompok lansia, penderita penyakit kronis, migran, dan tunawisma menjadi pihak yang paling rentan menghadapi bahaya ini.
"Hal itu benar-benar menunjukkan ketidaksetaraan yang semakin melebar akibat perubahan iklim. Karena tentu saja orang-orang yang sangat rentanlah yang paling berisiko kehilangan nyawa," ungkap Friederike Otto dari Imperial College London. Berdasarkan riset terdahulu, gelombang panas dengan skala lebih kecil pada Juni dan Juli 2025 tercatat telah menewaskan 2.300 orang di London serta 11 kota Eropa lainnya.
Intensitas gelombang panas diprediksi akan terus meningkat kecuali ada pemangkasan emisi bahan bakar fosil secara cepat. Benua Eropa dinilai belum siap menghadapi situasi ini karena memiliki populasi perkotaan yang menua dan infrastruktur yang dibangun untuk era lebih sejuk.
Kondisi ini diperparah dengan minimnya fasilitas pendingin udara, seperti di Inggris yang mencatat hanya 5% bangunan dilengkapi AC. Peneliti menyarankan Eropa berinvestasi pada mitigasi pasif seperti insulasi bangunan, ventilasi, atap hijau, dan penanaman pohon.