Proposal Damai AS Mempersempit Perbedaan Pandangan dengan Iran
Pemerintah Iran menyatakan draf proposal terbaru dari Amerika Serikat berhasil menjembatani sebagian celah perbedaan di antara kedua belah pihak dalam upaya penyelesaian konflik, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz.
Meskipun kemajuan sempat tercapai, ketidakpastian kembali muncul menyusul instruksi Pemimpin Tertinggi Iran untuk menahan cadangan uranium serta penolakan AS terhadap rencana penerapan tarif tol di Selat Hormuz.
Kantor berita semi-resmi Iranian Students' News Agency (ISNA) melaporkan pada hari Kamis (21/5) bahwa draf 14 poin tersebut telah mempersempit perbedaan sampai batas tertentu.
ISNA juga menambahkan perlunya penghentian ambisi perang dari pihak Washington demi penyelarasan lebih lanjut.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan sikap tegas negaranya di meja perundingan saat berbicara pada hari Kamis.
"kami tidak akan pernah mundur" kata Pezeshkian, Presiden Iran.
Memasuki bulan ketiga konflik, Pezeshkian menegaskan bahwa memaksa negaranya untuk menyerah melalui tekanan Barat merupakan hal yang mustahil.
"Memaksa Iran untuk menyerah melalui koersi tidak lebih dari sekadar ilusi" kata Pezeshkian melalui akun resminya di platform X pada hari Rabu.
Di pihak lain, Presiden AS Donald Trump memberikan respons tegas mengenai penolakannya terhadap rencana sistem tarif tol permanen di Selat Hormuz pada hari Kamis di Gedung Putih.
"Kami ingin selat itu tetap terbuka, kami ingin selat itu bebas, kami tidak ingin ada tarif tol," kata Trump kepada wartawan.
Sebelumnya pada hari Rabu, Trump juga memberikan peringatan keras mengenai potensi kelanjutan aksi militer jika kesepakatan tidak tercapai.
"Kami akan mencapai kesepakatan atau kita akan melakukan beberapa hal yang sedikit buruk," kata Trump.
Ia melanjutkan pernyataan tersebut dengan harapan agar eskalasi buruk tersebut tidak perlu terjadi.
"Tetapi mudah-mudahan hal buruk itu tidak terjadi." kata Trump.
Sikap keras Amerika Serikat terkait isu ekonomi di jalur perairan internasional tersebut juga ditegaskan oleh menteri luar negerinya.
"Kami ingin selat itu tetap terbuka, kami ingin selat itu bebas, kami tidak ingin ada tarif tol," ujar Marco Rubio, Menteri Luar Negeri AS.
Dari pihak sekutu AS, Israel turut menyuarakan ketidakpercayaan terhadap komitmen perdamaian Iran serta kesiapan melancarkan serangan lanjutan.
"Tahap berikutnya akan mencakup serangan terhadap target ekonomi, situs energi—minyak, gas, dan pembangkit listrik," kata Eli Cohen, Menteri Energi Israel kepada radio Kim Baram pada hari Rabu.