Rupiah Melemah ke Rp17.940 per Dolar AS pada 24 Juni 2026
Rupiah membuka perdagangan Rabu (24/6/2026) dengan pelemahan sebesar 0,39% ke posisi Rp17.915/US$. Tidak lama setelah itu, mata uang Garuda melanjutkan penurunan sebesar 0,53% ke level Rp17.940/US$ pada pukul 09:07 WIB, seperti dilansir dari Bloomberg Technoz.
Koreksi ini dipicu oleh keperkasaan dolar Amerika Serikat (AS) yang bergerak konsisten dalam beberapa hari terakhir. Indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia terpantau masih bertahan di level 101,41, sehingga menekan pergerakan mayoritas mata uang di Asia.
Baht Thailand mencatatkan pelemahan paling dalam sebesar 0,67%, yang kemudian diikuti oleh peso Filipina, dolar Taiwan, dan won Korea Selatan. Di sisi lain, pelemahan ringgit Malaysia, dolar Singapura, dan yen Jepang cenderung bergerak relatif terbatas.
Sebaliknya, hanya mata uang yuan China dan yuan offshore yang terpantau mampu menguat secara terbatas terhadap dolar AS.
Tekanan eksternal dari dolar AS tersebut mengonfirmasi sentimen domestik setelah rilis penilaian klasifikasi pasar oleh MSCI edisi Juni. Dalam laporan tersebut, MSCI mengapresiasi sejumlah langkah reformasi yang telah dieksekusi oleh Bursa Efek Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).
Meskipun demikian, MSCI menyatakan bakal terus memantau efektivitas serta perkembangan reformasi ini dalam memacu transparansi pasar dan akurasi penentuan free float. Penilaian lanjutan dijadwalkan kembali bergulir pada November mendatang.
Menurut analis Samuel Sekuritas, Prasetya Gunadi dan Ahnaf Yassar, prospek pasar saham domestik ke depan sangat bergantung pada keputusan MSCI mengenai status pembekuan proses inklusi saham baru ke dalam indeks.
"Jika pembekuan tersebut dicabut, saham-saham Indonesia yang memenuhi kriteria akan kembali berpeluang masuk ke indeks MSCI, sehingga berpotensi menarik arus dana pasif (passive inflows) dan memperbaiki sentimen pasar," sebut keduanya dalam catatan.
Sementara itu, aksi jual masih membayangi pasar obligasi domestik pada mayoritas tenor. Namun, imbal hasil atau yield pada beberapa tenor tertentu justru tercatat mengalami penurunan.
Yield obligasi tenor 1 tahun turun sebanyak 7,1 bps ke posisi 7,19%, kemudian tenor 4 tahun turun 0,5 bps ke level 7,29%, dan tenor 6 tahun terpantau menyusut 0,1%.
Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, Lionel Priyadi, memperkirakan potensi keluarnya arus modal masih berisiko berlanjut sampai November nanti. Kondisi ini dinilai bisa memicu Bank Indonesia untuk bersikap hawkish dengan mengerek BI Rate.
Sebagai data tambahan, penawaran yang masuk pada lelang Surat Utang Negara (SUN) kemarin terkoreksi tipis 0,26% menjadi Rp46,58 triliun dari periode sebelumnya sebesar Rp46,7 triliun. Walau begitu, pemerintah memenangkan nilai penawaran lebih tinggi 13,85% menjadi Rp30 triliun dibanding lelang sebelumnya yang senilai Rp26,35 triliun.