Sektor Pertanian AS Ragukan Permintaan Iran Beli Hasil Bumi

Share

Sektor pertanian Amerika Serikat menanggapi seruan Presiden Donald Trump agar Iran membeli komoditas hasil bumi mereka dengan campuran keraguan dan optimisme hati-hati pada Rabu, 24 Juni 2026, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz. Langkah ini diambil di tengah upaya Trump mendekati para petani yang menjadi blok pemilih utama menjelang pemilihan paruh waktu, meskipun kebijakan tarif dan konflik dengan Iran telah mengganggu ekspor serta meningkatkan biaya input pertanian. Para pedagang biji-bijian sejauh ini masih belum yakin dengan prospek tersebut, yang memicu penurunan harga jagung dan gandum berjangka selama tiga sesi berturut-turut pada Selasa, sementara pergerakan harga kedelai cenderung stagnan pekan ini.

Kepala ekonom komoditas StoneX, Arlan Suderman memberikan pandangannya mengenai situasi geopolitik ekonomi yang sedang berkembang ini.

“Saya tetap skeptis terhadap pembelian komoditas pertanian AS oleh Iran, tetapi kemungkinan itu harus dihormati,” kata Arlan Suderman, Kepala Ekonom Komoditas StoneX. Suderman menilai bahwa sektor agraria berpotensi menjadi instrumen kompromi bagi pemerintah Iran demi melancarkan kepentingan mereka di sektor lain selama proses negosiasi berlangsung.

“Itu mungkin akan menjadi area yang akan dikorbankan Iran untuk mendapatkan apa yang diinginkannya di area lain dalam pembicaraan,” ujar Arlan Suderman, Kepala Ekonom Komoditas StoneX. Harapan mengenai terbukanya akses pasar baru ini juga disampaikan oleh lembaga analisis agribisnis AgResource Co yang menyoroti sejarah perdagangan kedua negara sebelum tahun 1979.

“Petani AS berharap perang ini membuka pasar baru yang belum ada sejak tahun 1979,” kata AgResource Co. Pencarian pasar alternatif seperti Iran mengemuka akibat renggangnya hubungan dagang antara Washington dan Beijing, di mana para pelaku usaha masih menantikan realisasi janji pembelian produk pertanian senilai US$17 miliar dari China pasca-KTT Beijing bulan lalu. Kendala logistik dan kerusakan infrastruktur pascaperang di Timur Tengah serta lambatnya lalu lintas kapal di Selat Hormuz turut menjadi perhatian serius analis No Bull Ag, Susan Stroud.

“Bagaimana kondisi infrastruktur? Kita hampir tidak bisa menyepakati gencatan senjata, apalagi memaksa mereka untuk melakukan pembelian pertanian AS dalam jumlah besar,” kata Susan Stroud, Analis No Bull Ag.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
tiara-puspita-sari
Author