Luhut Minta Maaf ke Investor Global Terkait Gejolak Ekonomi

Share

Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan menyampaikan permohonan maaf secara langsung kepada para investor global dan perusahaan pengelola aset di Singapura pada Kamis (21/5) akibat dampak negatif dari volatilitas pasar serta tekanan situasi ekonomi saat ini.

Pernyataan tersebut disampaikan Luhut melalui sebuah tayangan video yang diunggah pada akun media sosial pribadinya. Penjelasan mengenai risiko makroekonomi ini sengaja dipaparkan untuk memberikan transparansi kepada para pelaku pasar modal global.

"Saya minta maaf jika beberapa dari Anda mengalami dampak negatif karena situasi tersebut," kata Luhut dikutip dari unggahannya, Kamis (21/5).

Langkah mitigasi juga mulai dirancang oleh pemerintah demi menjaga stabilitas domestik setelah pertengahan tahun ini. Mantan Menko Marves tersebut mengaku telah memberikan peringatan dini kepada Presiden Prabowo Subianto mengenai potensi tekanan fiskal yang diperkirakan muncul usai Juli 2026.

"Tapi saya juga ingatkan kepada Presiden (Prabowo), kita harus melihat dengan jelas setelah Juli. Fiskal dan budget negara kita akan diperbaiki pada akhir atau awal tahun berikutnya," ujarnya.

Lonjakan harga minyak mentah dunia menjadi salah satu fokus utama dalam simulasi kedaruratan anggaran yang disusun pemerintah. Jika harga minyak menembus angka US$100 per barel, kondisi tersebut berpotensi menekan APBN secara signifikan lantaran patokan awal anggaran negara masih menggunakan asumsi yang jauh lebih rendah.

"Karena budget negara kita hanya US$70 dolar. Jadi, defisitnya sekitar Rp200 triliun," kata Luhut.

Berbagai langkah antisipasi kini tengah digodok secara mendetail oleh lintas kementerian dan lembaga terkait. Pemerintah berupaya keras agar daya beli masyarakat serta momentum pertumbuhan ekonomi nasional tidak tergerus oleh fluktuasi komoditas global tersebut.

"Jadi, apa yang harus kita lakukan untuk menyelesaikan ini? Sesuatu seperti itu. Jadi, kita cukup detail untuk melihat masalah ini," ujarnya.

Kendati dihadapkan pada ancaman eksternal, indikator makroekonomi Indonesia diklaim masih menunjukkan performa yang solid. Luhut mencatat angka inflasi domestik saat ini masih berada di posisi terkendali sebesar 2,4 persen, sementara pertumbuhan ekonomi mampu melaju di level 5,61 persen.

"Ekonomi kita seharusnya masih sangat kuat dibanding beberapa negara lain, tidak mengingat kita memiliki beberapa masalah di sini dan di sana," kata dia.

Kendati demikian, penurunan kinerja portofolio yang dirasakan oleh sebagian pelaku pasar di wilayah regional tetap menjadi perhatian serius pemerintah Indonesia.

"Dan saya minta maaf juga, mungkin beberapa dari Anda memiliki dampak negatif karena situasi ini," tuturnya.

Pemberian insentif fiskal juga masuk dalam skenario penyelamatan ekonomi nasional apabila ketidakpastian global berlangsung dalam jangka waktu yang lebih lama dari perkiraan.

"Kita juga harus mempersiapkan stimulus untuk menjaga ekonomi kita," ujarnya.

Di sisi lain, reformasi pengawasan pasar keuangan sedang berjalan melalui kolaborasi intensif bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pemerintah mendorong penerapan teknologi kecerdasan buatan untuk meningkatkan aspek keterbukaan informasi dan mencegah praktik kecurangan di pasar modal.

"Kita bertemu kemarin dengan OJK, and saya mendorong OJK untuk menggunakan AI untuk membuat lebih jelas antara pasar kapital," kata Luhut.

Implementasi teknologi GovTech berbasis kecerdasan buatan ini juga telah mendapatkan persetujuan penuh dari Presiden Prabowo Subianto guna memperkuat sistem pengawasan tata kelola pemerintahan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
tiara-puspita-sari
Author