Perundingan Damai AS dan Iran di Swiss Menghadapi Hambatan Awal
Proses negosiasi perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance di Swiss terancam mengalami kebuntuan akibat ketegangan baru di Selat Hormuz pada Senin, 22 Juni 2026. Hambatan muncul setelah pihak Iran menyatakan telah menutup jalur pelayaran strategis Selat Hormuz, meskipun sebelumnya telah menyepakati pembukaan jalur tersebut dalam nota kesepahaman (MOU) yang ditandatangani di Prancis pekan lalu. Langkah sepihak Teheran ini menuai reaksi keras dari Presiden AS Donald Trump yang langsung melayangkan ancaman militer baru, sementara sejumlah anggota parlemen dari kedua partai di Washington mulai meragukan efektivitas kesepakatan jangka pendek selama 60 hari tersebut.
Mantan pejabat keamanan nasional senior AS, Philip Gordon menilai gencatan senjata ini masih berpeluang dipertahankan karena adanya faktor keuntungan ekonomi yang besar bagi kedua belah pihak.
"Ada peluang bagus setidaknya gencatan senjata ini bertahan hanya karena itu demi kepentingan kedua belah pihak," kata Philip Gordon, seorang mantan pejabat keamanan nasional senior AS. Gordon menambahkan bahwa Iran sangat berkepentingan untuk mematuhi kesepakatan ini demi memulihkan pendapatan jutaan dolar per hari dari ekspor minyak.
"Iran memiliki kepentingan untuk tetap berpegang pada ini. Dan Amerika Serikat tentu saja memiliki kepentingan untuk tetap berpegang pada ini, karena mereka tidak ingin melanjutkan perang," kata Philip Gordon. Di sisi lain, mediator dari Qatar dan Pakistan menyatakan dalam rilis resmi bahwa pembicaraan awal yang berlangsung hingga Minggu malam waktu AS berjalan dalam atmosfer yang positif.
Namun, situasi di lapangan tetap rapuh karena Teheran menggunakan penutupan Selat Hormuz sebagai alat tawar untuk memaksa AS menekan Israel agar menghentikan serangan terhadap milisi Hizbullah di Lebanon. Menanggapi manuver tersebut, Kepala Negosiator Iran Mohammad Bagher Ghalibaf melontarkan kritik balik terhadap ancaman yang terus dikeluarkan oleh Presiden Donald Trump melalui media sosial. "Tidakkah mereka pernah berpikir dalam hati bahwa jika ancaman mereka benar-benar berhasil, mereka tidak akan mencapai tingkat keputusasaan seperti sekarang ini?" tulis Mohammad Bagher Ghalibaf, Kepala Negosiator Iran di platform X.
Sikap keras ini mengindikasikan bahwa Iran tidak akan memberikan kesepakatan cepat yang dapat dimanfaatkan oleh Trump sebagai komoditas politik menjelang pemilihan paruh waktu pada November mendatang.