PIDG Targetkan Galang Dana Energi Terbarukan Tiga Miliar Dolar
Ketahanan energi dan proyek energi terbarukan di negara berkembang kini semakin diminati imbas konflik di Iran yang mengerek harga minyak mentah ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Lonjakan harga komoditas ini mendorong Private Infrastructure Development Group (PIDG) untuk membidik pendanaan baru pada Senin, 22 Juni 2026.
Lembaga pembiayaan multilateral yang disokong oleh pemerintah Eropa Barat, Australia, dan Kanada tersebut menargetkan penggalangan dana sebesar US$3 miliar di pasar negara berkembang pada tahun ini. Nilai target tersebut tercatat sama dengan perolehan yang dibukukan pada tahun sebelumnya, dilansir dari Bloombergtechnoz.
Minat pasar terhadap pembiayaan ramah lingkungan ini dikonfirmasi langsung oleh pihak manajemen lembaga. Gangguan pasokan di Timur Tengah menjadi salah satu pemicu utama di balik tren positif tersebut.
"Kami memperkirakan paruh kedua tahun ini akan berjalan kuat," kata Marco Serena, Kepala Petugas Dampak Berkelanjutan PIDG.
Menurut penjelasan lanjutan, ketertarikan dari investor swasta dan negara berkembang berfokus pada penguatan sektor pasokan energi domestik. Gangguan pasar global memaksa banyak negara mencari alternatif guna memitigasi fluktuasi harga komoditas energi fosil.
"Hal ini didorong oleh minat baru pada infrastruktur energi terbarukan dari negara-negara pasar berkembang dan investor swasta, khususnya untuk memperkuat ketahanan energi," kata Marco Serena, Kepala Petugas Dampak Berkelanjutan PIDG.
Kerentanan pasokan akibat situasi geopolitik di Timur Tengah pada akhirnya membangkitkan kembali aktivitas transaksi obligasi hijau. Banyak negara kini berupaya mengamankan modal guna membiayai proyek energi bersih demi mengurangi ketergantungan pada minyak mentah.