Singapura Batasi Makanan Tinggi Garam Tekan Kasus Hipertensi

Share

Dewan Promosi Kesehatan Singapura (HPB) resmi membidik pembatasan konsumsi natrium atau garam melalui kampanye besar-besaran pada kuartal keempat tahun 2026 demi menekan lonjakan kasus hipertensi di negara tersebut.

Langkah drastis ini diambil setelah data kesehatan terbaru tahun 2025 menunjukkan lebih dari sepertiga penduduk Singapura hidup dengan tekanan darah tinggi, seperti dilansir dari Detik Health. Survei Gizi Nasional 2022 juga mencatat 9 dari 10 warga Singapura mengonsumsi rata-rata 3.620 mg natrium per hari, melebihi ambang batas aman 2.000 mg.

Melalui intervensi ini, HPB menargetkan asupan garam nasional dapat dipangkas hingga 15 persen pada tahun 2026. Pemerintah Singapura mereplikasi kesuksesan skema 'Nutri-Grade' yang sukses menekan konsumsi gula sejak September 2023, dan akan menerapkannya pada kemasan garam, saus, mi instan, hingga minyak goreng mulai pertengahan tahun 2027.

"Kita perlu menormalisasi permintaan ini. Ketika semakin banyak orang yang meminta, mungkin di masa depan kita bisa menerapkan rendah natrium sebagai standar baku (default)," ungkap Kepala Eksekutif HPB, Tay Choon Hong.

Penerapan kebijakan pada natrium diakui lebih rumit daripada gula karena fungsi strukturalnya dalam makanan, seperti protes produsen kecap asin terkait proses fermentasi. Kendati demikian, pemerintah tetap mempermudah transisi warga dengan menyediakan rak khusus 'pilihan lebih sehat' di supermarket raksasa pada awal 2026.

"Rata-rata rumah tangga hanya mengonsumsi 1 kg garam dalam setahun penuh. Dalam konteks ini, membayar S$3 (Rp53.000) lebih mahal demi jaminan kesehatan jantung selama setahun penuh bukanlah hal yang buruk," tegas Tay Choon Hong.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author