PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta Serukan Pesan Damai Jelang Derby DIY

Share

Manajemen PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta menyerukan pesan damai jelang laga Derby DIY setelah PSS Sleman dipastikan promosi ke BRI Super League 2026/2027, seperti dilansir dari Bola.

Kepastian tersebut diperoleh usai PSS Sleman merebut tiket promosi dengan status runner-up Pegadaian Championship 2025/2026, sehingga kedua tim berpeluang kembali bentrok di kasta tertinggi setelah terakhir kali bertemu pada Liga 2 musim 2018.

Direktur PSS Sleman, Yoni Arseto, menegaskan bahwa hubungan internal antara manajemen kedua klub sejauh ini berjalan sangat baik dan penuh rasa saling menghormati.

"Yang saya harapkan kalau derby sih kalau internal misalkan dari kita PSS dan PSIM pastinya tidak ada masalah," ujar Yoni Arseto pada Senin (18/5/2026).

Yoni Arseto berharap slogan 'Mataram Islah' dapat diwujudkan oleh suporter kedua tim demi menjaga situasi kondusif di masyarakat.

"Tapi yang saya harapkan adalah masyarakat, terutama suporter dari PSS Sleman dan PSIM Jogja itu saya berharap untuk saling berkolaborasi."

Ia juga menambahkan bahwa sepak bola semestinya menjadi sarana untuk mempererat persaudaraan antarsuporter.

"Istilahnya Mataram Islah. Kita ini bersaudara, apa pun benderanya tetap saudara. Ini hanya olahraga kalau bisa semua menjaga kondusivitas masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta," lanjut Yoni Arseto.

Direktur Utama PSIM Yogyakarta, Liana Tasno, turut memberikan ucapan selamat atas keberhasilan PSS Sleman dan menilai Derby DIY sebagai momentum penting untuk menunjukkan rivalitas yang sehat.

"Kami congratulations to PSS Sleman yang kembali ke Liga 1. Ayo sama-sama, kan kita sama-sama Yogyakarta. Dengan Persis Solo kita sudah menjadi benchmark kemarin. Jangan lupakan kemarin kita berpelukan bersama-sama di Mandala Krida," kata Liana Tasno.

Liana Tasno juga mengingatkan agar semua pihak tidak melupakan Tragedi Kanjuruhan serta terus menanamkan nilai-nilai sportivitas dalam sepak bola.

"Tragedi Kanjuruhan itu jangan dilupakan. Jangan menjadi event yang cuma ya lagi ada begitu terus peluk-pelukan, habis itu lupa. Enggak boleh begitu. Jadi kita musti benar-benar bersaudara, kita satu bangsa kok, satu negara."

Ia menegaskan pentingnya menjaga sportivitas dan rasa persaudaraan agar sepak bola tidak menjadi pemecah belah bangsa.

"Kenapa kita musti menjadikan sepak bola ini pemecah? Saya enggak ngerti sih kenapa. It's sepak bola. Jadi nilai-nilai sepak bola dan nilai-nilai olahraga itu kita tanamkan, fair play, sportivitas. Kita jagalah Mataram Is Love itu. Benar-benar kita jaga," sambung Liana Tasno.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author