Investor Jepang Serbu IPO SpaceX Senilai 2,5 Miliar Dolar AS
Antusiasme luar biasa dari para investor di seluruh dunia menyambut penawaran saham perdana atau IPO SpaceX yang telah lama dinantikan. Fenomena ini terekam jelas di Jepang, negara dengan aset sektor rumah tangga yang sangat besar mencapai sekitar US$15 triliun atau setara Rp269.490 triliun. Seperti dikutip dari Bloombergtechnoz, tingginya minat di Negeri Sakura tersebut membuat perusahaan besutan Elon Musk ini menaikkan target penggalangan dana lokalnya menjadi US$2,5 miliar.
Langkah penggalangan dana berskala besar ini menjadi peristiwa yang sangat langka di pasar modal Jepang. Tercatat, Jepang hanya mencatatkan satu IPO dengan nilai sebesar itu atau lebih sejak pencatatan saham raksasa Softbank Corp. pada tahun 2018 silam.
SpaceX sengaja mengalokasikan 30% dari total IPO senilai US$75 miliar khusus untuk pembeli ritel. Kebijakan ini memicu aksi berburu masif terhadap instrumen yang dianggap banyak orang sebagai peluang investasi generasi baru, meskipun pasar saham teknologi AS sempat diguncang aksi jual belum lama ini.
Tingginya permintaan bahkan dilaporkan telah mencapai lebih dari empat kali lipat dari jumlah penawaran saham yang tersedia. Kondisi tersebut diperkirakan akan menghentikan penerimaan pesanan dari investor institusional pada hari Rabu di New York, menurut informasi dari pihak yang mengetahui masalah ini. Guna mengantisipasi lonjakan minat, sejumlah bank berusaha mencegah para trader melakukan pemesanan ganda di platform lain.
Bagi sebagian investor ritel lokal, penawaran ini menjadi momentum emas yang tidak boleh dilewatkan begitu saja. Salah satu investor berusia 20 tahun, Getto Hagiya, membagikan pandangannya mengenai peluang langka ini.
"Peluang untuk mendapatkan saham sepertinya tipis, tapi jika saya berhasil, rasanya seperti memenangkan jackpot. Saya sangat menghormati Elon Musk dan melihat peluang tak terbatas di sektor bisnis antariksa," kata Hagiya melalui telepon.
Jepang saat ini menjadi satu-satunya negara di kawasan Asia, dan salah satu dari sedikit negara di dunia bersama Australia, Kanada, serta beberapa negara Eropa, yang mengizinkan investor ritel membeli saham SpaceX secara langsung melalui jalur IPO.
Berdasarkan target yang ditetapkan perusahaan, para investor dari Jepang diproyeksikan akan menyumbang sekitar 3% dari total dana yang dihimpun. Melalui perhitungan Bloomberg, angka ini kemungkinan merepresentasikan porsi yang jauh lebih besar dari segmen investor ritel.
Perusahaan investasi atau institusi sebenarnya dapat ikut serta dalam penawaran ini. Namun, sebagian besar alokasi diperkirakan akan tetap diarahkan kepada investor ritel karena adanya regulasi internal yang membatasi manajer investasi Jepang untuk membeli saham asing.
Meski demikian, sikap berhati-hati tetap ditunjukkan oleh sebagian calon pembeli di pasar lokal. Yujin Hwang, seorang investor ritel setempat yang berusia 40-an, memilih untuk menunggu informasi lebih lanjut mengenai lini bisnis SpaceX lainnya sebelum mengambil keputusan investasi.
"Saya tidak akan terburu-buru untuk membeli, sebaliknya, saya akan mempertimbangkan untuk berinvestasi setelah harga saham stabil hingga tingkat tertentu. Banyak IPO baru-baru ini menjadi terlalu panas karena ekspektasi segera setelah pencatatan dan kemudian mengalami koreksi yang signifikan," kata dia.
Pandangan waspada juga datang dari investor veteran James Chanos yang melihat penawaran masif ini sebagai bentuk ujian terhadap sentimen pasar secara keseluruhan. Menurut pelaku short selling berpengalaman tersebut, IPO ini lebih didorong oleh antusiasme para investor dibandingkan dengan fundamental keuangan riil perusahaan. Chanos menilai valuasi tersebut sulit dibenarkan dan menyebutnya sebagai sebuah penawaran yang didasari pada harapan dan impian.
Di Australia, lonjakan permintaan dari investor ritel juga menunjukkan tren serupa. Para investor bahkan dilaporkan harus menunggu hampir satu jam pada hari Senin dalam antrean pusat panggilan untuk menghubungi broker Commonwealth Securities Ltd. demi menanyakan perihal SpaceX, meskipun perusahaan tersebut menolak berkomentar karena batasan regulasi.
Kondisi kontras terjadi di pasar Asia lainnya, di mana akses bagi jutaan investor ritel ditutup untuk berpartisipasi secara langsung. Penjamin emisi telah diperintahkan untuk menolak pesanan dari wilayah Hong Kong dan China dengan alasan pembatasan terkait ekspor teknologi kritis, menurut sumber yang mengetahui aturan tersebut.
Sementara itu di Korea, kelompok investor ritel yang dijuluki pasukan semut telah tumbuh menjadi kekuatan pasar yang dominan dan dikenal gemar memborong saham seperti Tesla Inc. Melalui komunitas daring, mereka aktif bertukar tips untuk mendapatkan eksposur ke SpaceX, mulai dari membeli saham perusahaan teknologi besar pemilik saham proxy hingga menambahkan ETF AS terkait ruang angkasa.
Untuk lebih dari 130 juta investor ritel di India, sebagian besar pialang lokal tidak mengizinkan warga negara mereka untuk berlangganan IPO AS secara langsung, sekalipun penawaran dari SpaceX ini tersedia bagi publik.
Kondisi likuiditas tinggi dan proses penawaran yang efisien menjadikan Jepang sebagai target pasar yang sangat tepat bagi SpaceX. Data Bank of Japan menunjukkan bahwa rumah tangga di Jepang memiliki aset keuangan sekitar ¥2,4 kuadriliun atau setara US$15 triun, dengan separuhnya disimpan dalam bentuk tunai dan simpanan. Per Maret 2025, proporsi simpanan tunai di Jepang tercatat melampaui negara-negara ekonomi besar lainnya termasuk Amerika Serikat.
"Dana ritel Jepang menarik perhatian global, mengingat kepemilikan aset rumah tangga yang sangat besar," kata Koji Takeuchi, Peneliti Senior di Itochu Research Institute.
Kepopuleran sang pemilik perusahaan dinilai menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat setempat. Kepala strategi di Sumitomo Mitsui Trust Asset Management, Hiroyuki Ueno, menyebutkan bahwa daya tarik figur pemilik berperan penting dalam mendorong permintaan pasar.
"Elon Musk populer di Jepang dan ada banyak penggemar Tesla di sini. Hal itu akan mendorong permintaan," katanya.
Proses IPO di Jepang ini dikelola secara langsung oleh Mizuho Financial Group Inc., melalui unit perbankan investasinya di AS yang bertindak sebagai satu dari 23 penjamin emisi. Mizuho mengelola pesanan investor lewat pialang lokal serta platform daring seperti Rakuten Securities Inc. dan SBI Securities Co.
Melalui pengumuman resmi di media sosial X, Rakuten Securities menyatakan akan menghentikan penerimaan pesanan empat jam lebih awal dari jadwal semula. Para peminat dari segmen ritel dijadwalkan akan menerima pemberitahuan hasil undian paling cepat pada Jumat pagi waktu Jepang.
Penawaran global ini memanfaatkan kerangka kerja khusus di Jepang yang dikenal sebagai Public Offering Without Listing (POWL) untuk menjangkau investor ritel lokal. Struktur ini sebelumnya telah digunakan oleh Visa Inc. untuk menjual sekitar 1,8% dari IPO senilai US$20 miliar di AS pada 2008, China Shenhua Energy Co. di Hong Kong pada 2005, serta IPO PayPay yang mengumpulkan US$138 million dari pembeli Jepang tahun ini.
Mantan kepala pasar modal ekuitas Asia di Nomura Holdings Inc., Philippe Espinasse, memberikan analisisnya mengenai efektivitas penggunaan struktur regulasi tersebut dalam transaksi besar ini.
"Ini amat sesuai dengan profil IPO yang dirancang untuk diakomodasi oleh struktur POWL. Sebuah POWL dapat meraih permintaan yang signifikan dan tidak sensitif terhadap harga dari masyarakat Jepang dalam transaksi yang dilakukan oleh penerbit besar dan terkenal," tutur kata Philippe Espinasse.
"Mengingat besaran yang belum pernah terjadi sebelumnya dan penilaian yang agresif untuk IPO SpaceX, semua kemungkinan jalur permintaan investor perlu dipertimbangkan," kata mantan bankir tersebut.