Saham Asia Berpotensi Melemah akibat Tekanan Sektor Teknologi
Pasar saham di kawasan Asia diperkirakan mengalami penurunan pada Kamis, 11 Juni 2026, setelah terjadi aksi jual besar-besaran pada sektor teknologi di Wall Street, Amerika Serikat. Sentimen pasar global juga tertekan oleh kenaikan harga minyak mentah akibat kembali memanasnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz.
Kontrak berjangka untuk indeks saham di Jepang, Australia, dan Korea Selatan menunjukkan pergerakan turun pada pagi hari. Kondisi ini menempatkan indeks saham regional Asia dalam potensi mencatatkan pelemahan selama dua hari berturut-turut.
Di AS, indeks S&P 500 melemah 1,6 persen dan Nasdaq 100 anjlok 2 persen yang kemudian memicu penurunan kontrak berjangka saham setempat. Koreksi ini menjadi penurunan beruntun di atas 1 persen yang pertama sejak Maret bagi indeks teknologi tersebut.
Penurunan selama dua hari beruntun melanda saham produsen chip dan infrastruktur kecerdasan buatan (AI). Saham Nvidia merosot 3,7 persen, Broadcom turun 5,1 persen, dan Super Micro Computer anjlok 28 persen setelah mengumumkan rencana penghimpunan dana ekuitas sebesar US$7 miliar.
Selain itu, saham Oracle mengalami penurunan dalam perdagangan after-hours akibat laporan belanja modal kuartalan yang melampaui perkiraan. Di sisi lain, harga minyak mentah AS naik sekitar 2 persen pada Rabu setelah serangan baru militer AS terhadap Iran.
Aksi militer tersebut terjadi setelah Presiden AS Donald Trump memberikan peringatan bahwa Iran akan menerima konsekuensi atas penundaan negosiasi kesepakatan damai. Ketegangan geopolitik ini mengaburkan sentimen positif dari data inflasi inti AS yang tercatat tumbuh 0,2 persen, lebih rendah dari konsensus ekonom sebesar 0,3 persen.
Kondisi ekonomi AS yang tetap kuat membuat pelaku pasar mengurangi proyeksi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve. Situasi tersebut memperpanjang rotasi keluar dari saham teknologi yang sebelumnya mendorong reli pasar tahun ini.
Kepala Analis Pasar IG, Chris Beauchamp memberikan pandangan mengenai sikap para pelaku pasar saat ini.
"Investor masih tetap waspada meski mendapat sedikit angin segar dari data inflasi," kata Chris Beauchamp, Kepala Analis Pasar IG.
Menurut dia, pasar masih berisiko mengalami penurunan lebih lanjut dalam jangka pendek.
"Sekarang situasinya seperti ‘sekali terkena, due kali waspada’ belum ada yang benar-benar berani masuk membeli saat harga turun, sehingga pasar masih berpotensi bergerak lebih rendah untuk sementara meski tren utama belum berubah," ujarnya.
Sementara itu, harga emas mengalami penurunan hingga 4,4 persen pada Rabu, sedangkan indeks dolar AS terpantau stabil. Pelaku pasar obligasi juga masih mempertahankan proyeksi bahwa The Fed tetap akan menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun ini.
Imbal hasil Treasury kembali merangkak naik seiring lonjakan harga minyak, meskipun sempat turun setelah rilis data inflasi. Pasar swap suku bunga bahkan menunjukkan pelaku pasar sepenuhnya memperhitungkan kenaikan suku bunga pada Desember.
Chief Investment Officer Regan Capital, Skyler Weinand menyampaikan analisisnya terkait kebijakan suku bunga acuan tersebut.
"Sudah jelas pemangkasan suku bunga tidak lagi menjadi opsi, dan meski ada pembicaraan soal kemungkinan kenaikan suku bunga, kami menilai kecil kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga sebelum pemilu sela," tulis Skyler Weinand, Chief Investment Officer Regan Capital.
Di tengah situasi tersebut, korporasi global sedang bersiap melakukan penerbitan saham baru dalam skala besar demi mendanai investasi AI. Salah satunya adalah IPO SpaceX yang dilaporkan telah menarik pesanan hingga lebih dari empat kali dari jumlah saham yang ditawarkan.
SpaceX menawarkan 555,6 juta saham dengan harga US$135 per saham untuk menghimpun dana sekitar US$75 miliar. Langkah ini diperkirakan bakal memberikan valuasi perusahaan mencapai sekitar US$1,8 triliun.
Dari perkembangan di Asia, Gubernur Bank of Japan (BOJ) Kazuo Ueda dilaporkan masuk rumah sakit dan kemungkinan absen dari rapat kebijakan pekan depan. Meski demikian, pasar tetap memproyeksikan BOJ akan menaikkan suku bunga ke level tertinggi sejak 1995 setelah adanya sinyal dukungan dari sejumlah anggota dewan.