Inflasi Konsumen China Mandek dan Harga Produsen Melonjak Tajam
Laju inflasi konsumen di China secara mengejutkan stagnan pada bulan Mei. Di sisi lain, harga-harga di tingkat produsen justru melonjak dengan kecepatan tertinggi dalam hampir empat tahun terakhir.
Fenomena ini dipicu oleh lonjakan harga komoditas global yang mulai membawa ekonomi terbesar kedua di dunia ini mendekati akhir dari rekor deflasi panjangnya, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz.
Berdasarkan data yang dirilis oleh Biro Statistik Nasional (NBS) China pada hari Rabu (10/6), Indeks Harga Konsumen (IHK) tumbuh 1,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (yoy).
Laju ini sama persis dengan pencapaian bulan sebelumnya, namun meleset dari estimasi median para ekonom dalam survei Bloomberg yang memproyeksikan angka 1,3%. Kemerosotan harga daging babi hingga 16% menjadi penahan utama dengan menyumbang kontraksi 0,3 poin persentase pada IHK.
Sebaliknya, inflasi di tingkat produsen atau Producer Price Index (PPI) melesat menjadi 3,9% (yoy), selaras dengan perkiraan pasar dan naik signifikan dari posisi April sebesar 2,8%.
Sementara itu, IHK inti—yang menyisihkan komponen bergejolak seperti bahan makanan dan energi—turut mengejutkan pasar karena tumbuh lebih lambat di angka 1,1%, turun dari capaian April sebesar 1,2%.
Setelah perilisan data tersebut, nilai tukar mata uang yuan China langsung menghapus keuntungan yang sempat diraih terhadap dolar AS dalam perdagangan domestik. Sementara itu, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah tenor 10 tahun terpantau bergerak stabil di kisaran level 1,7%.
"Akselerasi elektrifikasi, integrasi mendalam kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di berbagai sektor, serta meningkatnya permintaan terhadap daya komputasi telah mendongkrak harga di industri-industri seperti logam non-besi, mesin listrik, dan komputer," jelas ahli statistik NBS, Dong Lijuan, dalam pernyataan resmi yang menyertai rilis data tersebut.
Demam teknologi AI global saat ini memang mulai merembet ke sektor harga karena melonjaknya permintaan pasar terhadap barang elektronik asal China, mulai dari komponen cip hingga papan sirkuit cetak.
Volume ekspor China melompat lebih dari 19% (yoy) pada bulan Mei—rekor tertinggi dalam tiga bulan terakhir. Lompatan ini sebagian besar didorong oleh siklus investasi global yang menggelontorkan ratusan miar dolar untuk pembangunan pusat data berskala besar di Amerika Serikat.
Selain itu, reli harga komoditas seperti aluminium dan tembaga ikut mengerek naik harga jual pabrik. Sektor logam non-besi mendapatkan berkah besar berkat tingginya permintaan bahan baku untuk menopang infrastruktur teknologi AI.
Di sisi lain, krisis energi global yang dipicu oleh perang di Iran turut membangkitkan kembali tekanan inflasi di China.
Meski demikian, pabrik-pabrik yang langsung berhadapan dengan konsumen akhir masih terseok-seok untuk meneruskan beban kenaikan biaya bahan baku ini kepada pembeli.
Lemahnya permintaan domestik selama bertahun-tahun serta masalah kelebihan pasokan telah menciptakan persaingan ketat di antara perusahaan industri China, yang pada akhirnya menahan laju pemulihan inflasi.
Bloomberg Economics memprediksi bahwa deflator PDB—sebuah indikator makro yang mengukur perubahan harga di seluruh lini perekonomian—berpotensi mengakhiri tren penurunan yang telah berlangsung selama tiga tahun berturut-turut pada kuartal ini.