Hindari 5 Tambahan Bahan Makanan Ini Agar Tagihan Restoran Tidak Membengkak
Sejumlah restoran kerap menerapkan trik pemasaran dengan menawarkan peningkatan atau tambahan bahan makanan kepada konsumen. Namun, praktik ini sering kali membuat tagihan makan membengkak tanpa memberikan nilai tambah yang sepadan dengan biayanya.
Pelanggan kerap merasa terjebak karena ekspektasi kualitas bahan premium yang dijanjikan tidak sesuai dengan realita di piring. Dilansir dari Detik Food, terdapat beberapa daftar penawaran tambahan bahan di restoran yang sebaiknya dihindari agar tidak merugikan keuangan Anda.
Aroma truffle memang memberikan kesan mewah pada hidangan, tetapi truffle oil di restoran biasanya berasal dari perasa sintetis. Jenis minyak ini hampir tidak mengandung jamur truffle asli sama sekali.
Banyak chef terkemuka di dunia bahkan menghindari penggunaan bahan ini karena rasanya yang dianggap terlalu kuat dan buatan. Menambah biaya ekstra untuk bahan sintetis ini dinilai tidak sepadan bagi konsumen.
2. Gold Flakes
Serpihan emas atau edible gold sering kali dijadikan dekorasi tambahan pada menu tertentu seperti steak untuk memberikan tampilan yang megah. Sayangnya, bahan ini sama sekali tidak memiliki rasa dan tidak mengubah tekstur makanan.
Kehadiran gold flakes hanya berfungsi untuk estetika visual tanpa memanjakan lidah. Di sisi lain, harga serpihan emas yang mencapai jutaan rupiah per gram otomatis mendongkrak harga hidangan menjadi sangat mahal.
3. Garam Mewah
Penggunaan garam gourmet seperti fleur de sel atau garam Himalaya sering ditawarkan untuk memberikan sensasi tekstur kristal yang lebih kasar. Restoran kerap memanfaatkan daya tarik visual ini untuk mengenakan biaya tambahan yang signifikan.
Padahal, modal produksi untuk sejumput garam gourmet tergolong sangat murah jika dibandingkan dengan bahan utama hidangan. Restoran dinilai hanya memanfaatkan elemen dekoratif ini untuk meningkatkan keuntungan.
4. Ekstra Keju
Tambahan ekstra keju sering kali dihargai terlalu tinggi dibandingkan dengan porsi yang disajikan kepada pelanggan. Selain itu, keju tambahan tersebut biasanya menggunakan jenis keju olahan yang tinggi kandungan air dan minyak nabati, bukan keju murni seperti mozzarella atau cheddar premium.
Karakter rasa asin dan creamy yang dominan dari keju olahan juga berisiko menutupi bumbu asli serta cita rasa utama hidangan. Jika menginginkan rasa yang lebih kaya, konsumen disarankan memilih jenis keju yang lebih tajam atau sedikit minyak zaitun setelah memastikan jenis yang digunakan kepada pihak restoran.
5. Menu Chef's Special
Penawaran menu khusus dari chef terdengar eksklusif, namun terkadang strategi ini digunakan pihak restoran secara efektif untuk menghabiskan sisa stok makanan yang belum terjual. Membeli menu ini memberikan ketidakpastian bagi konsumen.
Sebagian pelanggan mungkin mendapatkan bahan yang bagus, tetapi sebagian lainnya justru memperoleh kualitas bahan rendah dengan harga yang tetap mahal. Menu ini juga sering kali memiliki porsi yang sedikit sehingga konsumen disarankan menanyakan detail harga dan isi masakan sebelum memesan.