Melihat Pinal Air Park Tempat Ribuan Pesawat Pensiun Menumpuk

Share

Ada sekitar 8.000 pesawat pensiun yang telah habis masa pakainya teronggok di berbagai gurun, belantara, dan fasilitas penyimpanan di seluruh dunia. Sebanyak 11.000 pesawat lainnya diperkirakan akan menyusul masuk ke sana dalam 10 tahun ke depan.

Kuburan-kuburan ini mulai terisi penuh selama pandemi COVID-19 ketika maskapai penerbangan melakukan pemotongan biaya termasuk merumahkan pilot, memangkas rute, dan memarkir ratusan pesawat.

Menurut Aviation Circularity Consortium, ribuan pesawat yang dinonaktifkan ini menawarkan sumber baru material sekaligus mengatasi tantangan limbah. Maskapai dapat membongkar pesawat tua untuk diambil suku cadangnya guna mendukung upaya perawatan armada yang lebih berkelanjutan.

Di Amerika Serikat, beberapa armada Spirit Airlines kemungkinan akan berakhir di fasilitas semacam ini untuk dikonfigurasi ulang atau dibongkar, setelah maskapai tersebut menghentikan operasinya.

Salah satu kuburan pesawat ini adalah Pinal Air Park di Marana, Arizona, di area gurun, dilansir dari Detik iNET. Pinal Air Park terletak sekitar 144 km sebelah tenggara Phoenix dengan iklim kering yang ideal untuk mencegah terjadinya korosi pada pesawat.

Ketika operasi maskapai menyusut tahun 2020, ratusan pesawat dari berbagai penjuru dunia diterbangkan ke fasilitas seluas 841 hektar ini. Pinal mengambil langkah antisipasi khusus guna memastikan pesawat tetap siap terbang kapan pun industri kembali pulih.

Ascent Aviation Services (AAS) selaku penyedia layanan perawatan pesawat di lapangan terbang tersebut harus menambah staf untuk menangani kedatangan armada yang terus-menerus.

Area parkir tambahan pun dibangun untuk menampung ratusan pesawat jenis jet yang datang dari berbagai negara seperti AS, Korea Selatan, Inggris, Australia, dan Kanada.

Perusahaan leasing juga turut memenuhi lapangan tersebut setelah memborong pesawat-pesawat murah yang dijual selama masa COVID-19 dan menyimpannya. Namun, ketika perjalanan kembali melonjak dan permintaan melampaui level 2019, AAS kembali ke fokus utamanya yaitu pemeliharaan, perbaikan, dan perombakan menyeluruh.

Layanan dasar yang ditawarkan mencakup pemeriksaan perawatan sederhana dan perbaikan sesuai permintaan, seperti memperbaiki roda pendaratan atau memeriksa sistem penerbangan. Perawatan berat adalah yang paling menguras biaya bagi maskapai, di mana penilaian menyeluruh terhadap pesawat bisa memakan waktu hingga 60 hari untuk jenis jet berbadan lebar.

"Pemeriksaan pesawat berbadan sempit akan memakan biaya sekitar USD 2 juta," katanya kepada Business Insider yang dikutip detikINET. "Untuk pesawat berbadan lebar, biayanya dengan mudah bisa mencapai USD 3 juta."

Karena biaya pemeriksaan sangat mahal, banyak maskapai memilih menjual pesawat ketika sudah mencapai tahap tersebut, biasanya enam hingga 10 tahun sekali. Atau, operator penerbangan akan membiarkan masa sewa pesawatnya berakhir yang berarti jika pemberi sewa menemukan penyewa baru, armada itu perlu disesuaikan.

Untuk konversi jenis ini, AAS menawarkan layanan tambahan seperti mengecat ulang, mengganti sistem penerbangan, dan memasang kabin baru. Terkadang, pesawat juga bertransisi dari jet penumpang menjadi pesawat kargo.

Sebuah pesawat bisa memakan waktu berbulan-bulan dalam proses pembongkaran, di mana ratusan suku cadang akan dijual kembali atau diperbaiki untuk digunakan lagi. Suku cadang yang telah disertifikasi ulang dapat dikirim kembali kepada maskapai untuk disimpan sebagai stok komponen sehingga pesawat pensiun masih bisa menghidupi pesawat yang masih beroperasi.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author