Liverpool Hadapi Lima Masalah Besar Setelah Terseok-seok di Premier League

Share

Musim kompetisi ini berubah menjadi momen sulit yang harus dihadapi oleh Liverpool. Tim yang pada musim sebelumnya tampil sangat dominan hingga sukses merengkuh gelar juara Premier League kini justru tampil terseok-seok.

Kondisi tersebut memicu rasa tidak puas di kalangan pendukung yang memadati Stadion Anfield. Ketidakpuasan fans semakin terlihat dari reaksi mereka terhadap keputusan pergantian pemain yang dilakukan oleh manajer tim.

Situasi pelik ini membuat posisi manajer Arne Slot kini berada di bawah tekanan yang sangat besar. Berbagai kalangan bahkan mulai membandingkan masa sulit ini dengan era meredupnya performa The Reds di bawah asuhan Brendan Rodgers pada musim 2014-2015 silam.

Seperti dikutip dari Bola, Arne Slot menyatakan dirinya merasa sangat yakin bahwa Liverpool akan bertransformasi menjadi tim yang sepenuhnya berbeda pada musim 2026-2027 mendatang. Meski demikian, optimisme tersebut menghadapi tantangan berat karena adanya sejumlah persoalan mendasar yang wajib segera diselesaikan.

Liverpool saat ini sedang berada dalam masa transisi komposisi pemain. Sejumlah pilar penting dari masa kepemimpinan Jürgen Klopp tercatat sudah pergi, baru saja hengkang, atau sedang bersiap untuk meninggalkan klub.

Proses peremajaan tim ini memicu tantangan besar karena bukan sekadar mengganti pemain bintang, melainkan juga menjaga karakter kuat di ruang ganti. Mohamed Salah dipastikan hengkang pada musim panas setelah melalui musim yang kurang optimal, sementara Alisson Becker juga santer dikabarkan bakal menyusul akibat sering dibekap cedera.

Pihak manajemen sebenarnya bergerak cepat dengan merekrut penjaga gawang Giorgi Mamardashvili. Namun, kehadiran kiper asal Georgia tersebut dinilai belum sepenuhnya memberikan rasa aman bagi publik Anfield.

Kesamaan Karakteristik di Lini Depan

Langkah transfer Liverpool yang mendatangkan Alexander Isak dari Newcastle United dengan nilai rekor belum memberikan dampak maksimal. Striker asal Swedia itu harus melewatkan banyak laga akibat cedera patah tulang kaki sejak Desember, dan performanya setelah pulih belum konsisten.

Masalah di sektor serang menjadi rumit lantaran Alexander Isak dan Hugo Ekitike memiliki kecenderungan taktik yang mirip, yakni gemar bergerak melebar ke sektor kiri. Akibatnya, memadukan kedua pemain ini dalam satu pola serangan menjadi pekerjaan rumah yang sulit bagi pelatih, di tengah proses adaptasi Florian Wirtz yang juga belum berjalan mulus.

Kerapatan Sektor Tengah dan Pertahanan yang Longgar

Sektor pertahanan Liverpool menjadi area yang sangat rapuh sepanjang musim ini. Strategi fleksibilitas posisi di lini tengah yang diterapkan oleh Arne Slot justru membuat area belakang menjadi sangat terbuka karena ketiadaan gelandang bertahan murni.

Ryan Gravenberch yang diplot sebagai pemain jangkar jangkar seringkali bergerak terlalu maju ke depan. Di sisi lain, Alexis Mac Allister yang mengalami penurunan kebugaran kerap terlambat untuk turun membantu pertahanan.

Kondisi ini membuat Liverpool berada di peringkat ke-10 dalam statistik tim yang paling sering menerima serangan balik cepat di Premier League. Tercatat hanya ada lima tim yang memiliki jumlah kebobolan lebih banyak dari skema tersebut.

Ancaman Regulasi Kuota Pemain Homegrown

Aturan Premier League secara ketat mewajibkan setiap klub untuk mendaftarkan minimal delapan nama bertatus homegrown dari total 25 pemain di skuad utama. Aturan ini berpotensi menjadi ganjalan besar bagi Liverpool dalam menyusun komposisi tim ke depan.

Dua pemain lokal mereka, Joe Gomez dan Curtis Jones, dilaporkan bersiap meninggalkan klub seiring habisnya masa kontrak mereka pada tahun 2027. Sementara itu, Harvey Elliott diprediksi akan angkat kaki setelah melewati masa peminjaman yang kurang impresif di Aston Villa.

Menipisnya stok pemain dari akademi internal ini dipastikan bakal memengaruhi kebijakan serta arah perburuan pemain baru yang akan dilakukan Liverpool pada bursa transfer musim panas.

Penurunan Efektivitas Sektor Sayap Kanan

Sisi kanan penyerangan Liverpool yang sebelumnya dikenal sangat agresif kini justru menjadi titik lemah yang nyata. Kondisi ini dipicu oleh menurunnya performa Mohamed Salah serta hilangnya figur Trent Alexander-Arnold yang meninggalkan lubang besar di posisi bek kanan.

Kombinasi solid antara Trent Alexander-Arnold dan Mohamed Salah menjadi kunci ketajaman sektor kanan pada musim lalu. Tanpa adanya akurasi umpan matang dari sang bek, Mohamed Salah kini dituntut untuk bekerja ekstra keras dalam menciptakan peluang sendiri.

Jeremie Frimpong yang didatangkan untuk mengisi posisi tersebut masih kesulitan memperlihatkan performa yang stabil. Pemain ini dinilai kurang tangguh saat situasi satu lawan satu dan belum mampu memberikan rasa aman di lini belakang, sehingga harapan kini tertuju pada pulihnya Conor Bradley dari cedera.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author