Encik Haffiez Jual Kue Lapis demi Biaya Pengobatan Jantung Anaknya
Seorang ayah bernama Encik Haffiez gigih menjalankan bisnis kue lapis rumahan di kawasan Setia Alam demi membiayai pengobatan anak sulungnya yang mengidap penyakit jantung kronis. Kisah perjuangan ini dilansir dari Detik Food berdasarkan laporan Weird Kaya pada Jumat (5/6).
Pria yang memiliki empat anak tersebut tetap bersemangat berwirausaha meskipun dirinya sendiri harus berjuang melawan penyakit tulang rapuh. Kondisi medis ini memengaruhi pergerakannya serta menyebabkan gangguan pada bagian belakang kaki akibat pertumbuhan tulang di dekat tumit.
Anak sulung Encik Haffiez telah menderita sakit selama 16 tahun dan baru saja menyelesaikan operasi keenam. Penjualan kue dari rumah menjadi tumpuan utama karena biaya perawatan pascaoperasi yang sangat besar bagi keluarga mereka.
Tantangan finansial setelah tindakan medis menjadi beban terberat yang harus dihadapi oleh keluarga ini dalam masa pemulihan.
"Beberapa orang akan bilang, 'Bukankah operasinya sudah selesai?' Tapi seperti yang saya katakan sebelumnya, sebenarnya biaya perawatanlah yang membuat kami kesulitan," ujarnya Encik Haffiez.
Perjalanan bisnis rumahan ini tidak selalu berjalan lancar karena adakalanya dagangan tersebut sama sekali tidak laku terjual. Encik Haffiez mengakui bahwa pada masa-masa awal, dirinya sempat merasa kesulitan untuk menerima ujian hidup yang berat ini.
"Pada awalnya, saya tidak bisa menerimanya. Terkadang saya bertanya, mengapa saya diuji seperti ini?" katanya Encik Haffiez.
Kondisi fisik yang terbatas tidak menjadi penghalang bagi dirinya untuk terus mencari nafkah secara mandiri. Rasa tanggung jawab terhadap kesembuhan sang anak menjadi motivasi terbesar untuk tetap bekerja.
"Sesulit apapun keadaan yang saya hadapi, saya akan tetap berusaha sebaik mungkin untuk memenuhi kebutuhan anak saya," katanya Encik Haffiez.
Selama berjualan, ia juga harus menghadapi tuduhan miring dari sebagian orang yang menganggapnya menjual kisah sedih demi melariskan dagangan. Pengusaha rumahan ini memilih mengabaikan komentar negatif tersebut demi kelangsungan hidup keluarganya lewat bisnis yang jujur.
"Jadi saya mengesampingkan rasa malu saya. Terkadang ada orang yang berkomentar, tetapi apa pun yang terjadi, saya tidak akan menyerah," katanya Encik Haffiez.
Meskipun kondisi fisiknya tidak lagi seprima dahulu, keberadaan empat anak yang bergantung padanya memicu tekad untuk terus melangkah maju. Ia menegaskan komitmennya untuk tidak membiarkan anak-anaknya hidup dalam penderitaan.
"Saya tidak akan menyerah. Saya akan terus berusaha dengan apa pun yang saya miliki. Saya tidak ingin anak-anak saya menderita," tutupnya Encik Haffiez.