Waspadai Kulit Payudara seperti Jeruk yang Bisa Jadi Tanda Kanker
Perubahan pada payudara sering kali memicu kekhawatiran, terutama jika kulit tampak kasar dan bertekstur menyerupai kulit jeruk. Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal dengan istilah peau d’orange.
Kondisi kulit payudara seperti jeruk dapat menjadi salah satu tanda stadium awal kanker payudara yang perlu diwaspadai, seperti dilansir dari HaiBunda. Pengenalan gejala sejak dini sangat penting agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat demi meningkatkan peluang kesembuhan.
Tekstur kulit yang berpori, menebal, dan sedikit cekung ini terjadi akibat penumpukan cairan di bawah kulit karena saluran getah bening yang tersumbat. National Cancer Institute menyatakan bahwa kanker payudara inflamatori dapat menyebabkan kulit tampak merah, bengkak, dan berlesung akibat penyumbatan pembuluh limfatik oleh sel kanker.
Meskipun demikian, kulit yang menyerupai kulit jeruk tidak selalu menjadi tanda kanker. Menurut American Cancer Society, kondisi ini juga bisa dipicu oleh infeksi payudara atau mastitis, peradangan, pembengkakan jaringan, serta gangguan saluran limfatik.
Gejala kanker payudara inflamatori umumnya berkembang cepat dalam hitungan minggu atau bulan dan kerap tidak disertai benjolan yang jelas. Beberapa gejala stadium awal lain yang perlu diperhatikan meliputi pembengkakan salah satu payudara secara tiba-tiba, serta kulit yang terasa hangat atau kemerahan.
Sebuah ulasan medis dalam jurnal kesehatan yang dikutip oleh Health menyebutkan bahwa sekitar 46 persen pasien kanker payudara inflamatori mengalami perubahan kulit berupa dimpling atau tekstur seperti kulit jeruk. Selain itu, munculnya benjolan yang keras dan sulit digerakkan, puting yang tertarik ke dalam, serta keluarnya cairan bukan ASI juga menjadi indikasi yang harus diwaspadai.
Karakteristik Kanker Payudara Inflamatori
Gejala kulit seperti jeruk paling sering dikaitkan dengan inflammatory breast cancer (IBC). Berdasarkan data Cleveland Clinic, jenis kanker ini tergolong agresif dan berkembang lebih cepat karena sel kanker menyumbat pembuluh limfatik.
Informasi klinis dari American Cancer Society menunjukkan bahwa jenis kanker ini mencakup sekitar 1 hingga 5 persen dari seluruh kasus kanker payudara. Penyakit ini cenderung lebih agresif dan sering kali baru terdiagnosis saat sudah berada pada stadium lanjut.
Penelitian dalam jurnal CA: A Cancer Journal for Clinicians juga menegaskan bahwa penyumbatan pembuluh limfatik di kulit payudara oleh kanker ini memicu pembengkakan dan perubahan tekstur kulit. Pemeriksaan medis seperti USG, mamografi, atau biopsi diperlukan untuk memastikan penyebabnya.
Langkah Menurunkan Risiko Kanker Payudara
Penerapan kebiasaan sehat dapat membantu menurunkan risiko kanker payudara. Menjaga berat badan ideal, terutama setelah menopause, sangat dianjurkan karena jaringan lemak berlebih dapat memproduksi hormon estrogen yang memicu pertumbuhan sel kanker.
Jurnal Clinical Oncology menyebutkan bahwa perempuan dengan obesitas memiliki risiko lebih tinggi mengalami kanker payudara. Selain itu, rutin berolahraga secara teratur juga membantu menjaga keseimbangan hormon dan memperkuat sistem kekebalan tubuh.
American Cancer Society menyarankan olahraga intensitas sedang selama 150 hingga 300 menit per minggu. Langkah pencegahan lainnya adalah menyusui dalam jangka waktu yang lebih lama jika memungkinkan.
Studi dalam The Lancet menyatakan bahwa menyusui dapat membantu menekan paparan hormon tertentu yang berkaitan dengan risiko kanker. Membatasi konsumsi alkohol juga penting karena National Cancer Institute menunjukkan adanya kaitan antara alkohol dan peningkatan risiko penyakit ini.
Pola makan juga harus dijaga dengan memperbanyak konsumsi buah, sayur, dan makanan tinggi serat, serta membatasi makanan ultra-proses. Penelitian dalam BMJ menemukan pola makan sehat kaya sayur dan buah efektif menurunkan risiko kanker.
Kebiasaan merokok juga harus dihindari karena bahan kimia di dalamnya dapat merusak DNA sel menurut Centers for Disease Control and Prevention. Terakhir, Mayo Clinic menyarankan rutin melakukan Periksa Payudara Sendiri (SADARI) dan skrining medis secara berkala untuk menemukan kanker pada tahap awal.