Menkeu Purbaya Bantah Fenomena Kurva Imbal Hasil Terbalik Tanda Resesi
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa fenomena kurva terbalik atau inverted yield curve pada imbal hasil Surat Utang Negara tidak selalu menjadi indikator perekonomian Indonesia akan masuk ke jurang resesi, Jumat (5/6/2026).
Dilansir dari Bloomberg Technoz, pergerakan ini dipicu oleh langkah Bank Indonesia yang sengaja menaikkan imbal hasil jangka pendek melalui Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), sehingga kondisi yang terjadi saat ini bukan murni cerminan pasar bebas.
"Yang jangka pendek kan dinaikin BI sengaja kan, lewat SRBI kan akhirnya inverted tapi bukan menggambarkan itu akan resesi karena nggak pure market condition yang menjalankan itu," kata Purbaya dalam konferensi pers APBN Kita, Jumat (5/6/2026).
Purbaya menilai penerapan teori literatur atau perbandingan kondisi negara lain tidak bisa langsung diaplikasikan di dalam negeri tanpa mengidentifikasi penyebab mendasar dari fenomena tersebut.
"Ini engak [bukan market base], akan ada action dari bank sentral menaikkan yang jangka pendek untuk menarik dolar masuk kesini jadi itu bukan tanda resesi," kata Purbaya.
Pemerintah juga mengimbau pelaku pasar untuk tetap mencermati intervensi jangka pendek ini sekaligus memperhatikan fondasi data ekonomi nasional lainnya.
"Jadi itu yang harus dimengerti oleh para investor juga semuanya bagus kok gak ada masalah bank sentral gak akan menurunkan suku bunga ke depan gara-gara kita resesi," kata Purbaya.
Kondisi ekonomi Indonesia saat ini diklaim masih menunjukkan performa yang kokoh dan berada dalam jalur ekspansi yang mengalami akselerasi. Data pekan ini menunjukkan yield SUN tenor 1 tahun melonjak hingga 7,09 persen yang melampaui yield tenor 10 tahun di kisaran 6,69 persen.
Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede memberikan pandangan bahwa situasi kurva imbal hasil terbalik ini menjadi indikasi adanya tekanan pasar jangka pendek yang cukup serius.
"Dalam kondisi normal, imbal hasil tenor panjang biasanya lebih tinggi daripada tenor pendek karena investor meminta kompensasi waktu dan risiko yang lebih besar. Jika kurva menjadi terbalik, artinya pasar lebih khawatir terhadap risiko jangka pendek, terutama kebutuhan likuiditas, arah BI Rate, risiko arus modal keluar, dan kebutuhan pemerintah menerbitkan SBN di tengah pasar yang rapuh," kata Josua.
Kekhawatiran pasar modal tersebut mencakup kebutuhan likuiditas, pergerakan BI Rate, hingga risiko capital outflow. Kendati demikian, Josua sepakat bahwa situasi di pasar Indonesia memiliki karakteristik berbeda dengan Amerika Serikat sehingga tidak bisa langsung disimpulkan sebagai sinyal resesi otomatis.
"Meski demikian, Ia menggarisbawahi bahwa hal ini tetap menjadi sinyal bahwa pasar sedang meminta premi risiko lebih besar untuk tenor pendek dan lebih memilih instrumen yang sangat likuid." kata Josua.