Saham Vingroup Vietnam Melonjak 1.000 Persen Picu Kekhawatiran Analis
Kenaikan luar biasa pada saham terbesar di Vietnam telah mengejutkan para analis berpengalaman sekaligus memicu euforia investor ritel. Lonjakan ini juga memunculkan tanda tanya besar mengenai ketahanan reli tersebut dalam jangka panjang.
Dilansir dari Bloombergtechnoz, saham Vingroup JSC melonjak hingga 1.000% sejak awal 2025 sampai menyentuh puncaknya dua minggu lalu. Pertumbuhan ini menempatkan Vingroup sebagai perusahaan terbesar di pasar frontier dengan valuasi termahal di Asia.
Nilai pasar konglomerasi ini sekarang telah melampaui seluruh perusahaan yang ada di Indonesia. Bahkan, kapitalisasi pasarnya mampu melewati raksasa regional lain seperti Singapore Telecommunications Ltd. dan JD.com Inc.
Aksi beli agresif dari investor ritel menjadi pendorong utama lonjakan tersebut. Selain itu, perbaikan prospek anak usaha dan sentimen positif menjelang kenaikan status pasar saham Vietnam oleh FTSE Russell ikut memperkuat tren kenaikan.
Meski demikian, para pengelola dana global memilih untuk bersikap waspada. Mereka mempertanyakan kemampuan pertumbuhan laba perusahaan dalam mengimbangi valuasi yang kini jauh lebih tinggi daripada emiten sejenis.
"Valuasi saat ini mencerminkan ekspektasi yang sangat tinggi terhadap eksekusi bisnis, kondisi pendanaan, dan ekspansi usaha jangka panjang," kata Marco Martinelli, mitra di Turicum Investment Management AG.
Menurut Marco Martinelli, saham yang berkaitan dengan Vingroup saat ini menjadi kurang menarik apabila dibandingkan dengan peluang investasi lain yang tersedia di Vietnam.
Vingroup yang dikendalikan oleh miliarder Pham Nhat Vuong memiliki lini bisnis yang sangat luas. Gurita bisnisnya mencakup sektor kendaraan listrik, transportasi, properti, perhotelan, hingga pariwisata.
Dominasi perusahaan ini sangat kuat hingga menguasai sekitar sepertiga dari total bobot indeks acuan VN Index. Saham Vingroup saat ini diperdagangkan pada rasio 70 kali estimasi laba ke depan, jauh di atas rata-rata pasar yang hanya 12 kali.
Kondisi ini sebenarnya lumrah terjadi pada pasar yang lebih kecil karena likuiditas yang terbatas sering memicu volatilitas tinggi. Namun, bobot raksasa Vingroup berisiko mendistorsi performa bursa saham Vietnam.
Investor pasif diprediksi akan menghadapi pembengkakan bobot indeks saat Vietnam resmi naik status menjadi pasar berkembang pada September mendatang. Kini, fokus utama tertuju pada kesiapan fundamental perusahaan untuk membenarkan valuasi tersebut.
Vingroup sangat bergantung pada unit propertinya, Vinhomes JSC, untuk mendorong pertumbuhan laba demi mengejar valuasi yang tinggi. Pada kuartal pertama, Vinhomes berhasil membukukan laba bersih sebesar 25,6 triliun dong atau setara US$972 juta.
Jumlah laba bersih Vinhomes tersebut melonjak sekitar 10 kali lipat dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Sebaliknya, laba konsolidasi dari keseluruhan grup tercatat hanya mencapai 7,3 triliun dong.
Hasil kerja sektor properti ini menjadi krusial untuk menutup kerugian operasional dari produsen kendaraan listrik yang melantai di AS, VinFast Auto Ltd. Pendapatan tersebut juga digunakan untuk menyokong utang grup yang mengalir ke bisnis otomotif.
Chief Investment Officer di Tundra Fonder AB, Mattias Martinsson menilai perusahaan ini memiliki kelebihan valuasi yang sangat besar. Menurutnya, nilai fundamental emiten tersebut seharusnya jauh lebih rendah dari harga pasar saat ini.
"kelebihan valuasi lebih dari US$30 miliar," kata Mattias Martinsson yang mengindikasikan bahwa nilai fundamentalnya seharusnya sekitar 70% lebih rendah.
Sikap hati-hati para investor internasional juga tecermin langsung melalui pergerakan posisi pasar modal. Investor asing tercatat telah melepas saham lokal Vietnam dengan nilai mencapai US$2,7 milar sepanjang tahun ini.
Aksi jual bersih asing tersebut hampir mendekati arus modal keluar dari pasar saham Indonesia yang mencapai US$3,3 miliar. Indonesia sendiri saat ini sedang menghadapi ketidakpastian akibat potensi penurunan status pasar oleh MSCI Inc.
Tekanan jual di bursa Vietnam berpotensi terpusat pada saham-saham dengan kapitalisasi besar. Kondisi ini dipicu oleh terbatasnya jumlah perusahaan yang memiliki nilai transaksi harian di atas ambang minimum investasi sebesar US$10 juta.
Selain faktor transaksi harian, aktivitas pinjaman margin juga ditengarai ikut menggerakkan pasar. Data dari Fiingroup menunjukkan pemakaian leverage di bursa saham Vietnam mencetak rekor baru senilai 407 triliun dong pada kuartal pertama.
Prospek Jangka Pendek dan Risiko Koreksi Valuasi
Di sisi lain, performa impresif Vinhomes menggambarkan arah pemulihan ekonomi makro Vietnam yang tumbuh 7,8% pada kuartal pertama. Bursa saham negara tersebut bahkan sudah melonjak 45% sejak awal tahun lalu berkat sentimen FTSE.
Vingroup dipastikan akan menerima porsi aliran dana pasif terbesar sebagai perusahaan tercatat paling jumbo di bursa domestik. Hal ini menjadikannya instrumen utama bagi investor yang ingin masuk ke pasar Vietnam.
Pihak manajemen Vingroup menyatakan kepada Bloomberg News bahwa pergerakan harga saham perusahaan mencerminkan prospek makroekonomi Vietnam yang positif. Mereka juga menilai hal ini sejalan dengan fokus pemerintah dalam memperkuat sektor swasta.
Kondisi ekonomi makro ini memberikan sedikit angin segar bagi sebagian pelaku pasar modal. Faktor teknikal dan ekspektasi jangka panjang dianggap masih mampu menopang harga saham Vingroup dalam jangka pendek.
"aliran dana teknikal dan ekspektasi pertumbuhan jangka panjang masih dapat menopang harga saham dalam jangka pendek hingga menengah," kata Nguyen Anh Duc, kepala pialang institusional di SBB Securities.
Kelangsungan tren kenaikan ini pada akhirnya tetap bertumpu pada kekuatan fundamental internal perusahaan. Sentimen pasar yang berbalik secara mendadak berpotensi memicu koreksi cepat pada valuasi saham Vingroup yang sudah terlampau tinggi.
Kepala bisnis institusional di VNDirect Securities Corp., Quynh Cao berpendapat ada faktor pendukung jangka pendek yang bisa membuat saham Vingroup merangkak naik. Faktor tersebut meliputi penyerahan proyek lahan Vinhomes serta rencana pembagian dividen.
"jika monetisasi proyek-proyek Vinhomes melambat, atau kerugian VinFast bertahan lebih lama dari yang diperkirakan, koreksi valuasi akan terjadi dengan cepat. Ini adalah saham yang dihargai berdasarkan masa depan yang harus terwujud tepat waktu." kata Quynh Cao.